Candi Plaosan dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya (Hindu) dan istrinya Pramodhawardhani dari Wangsa Syailendra (Buddha). Pembangunannya diperkirakan berlangsung sekitar abad ke-9 M, sekitar tahun 825–850 M.
Candi ini mencerminkan perpaduan dua agama besar, yaitu Hindu dan Buddha, yang hidup berdampingan secara harmonis pada masa itu. Rakai Pikatan yang beragama Hindu dan Pramodhawardhani yang beragama Buddha menunjukkan toleransi melalui pembangunan candi bercorak Buddha ini.
Latar Belakang Pembangunan
Menurut prasasti dan sumber sejarah, Candi Plaosan dibangun sebagai:
-
Bentuk penghormatan Rakai Pikatan kepada Pramodhawardhani.
-
Tempat ibadah umat Buddha Mahayana.
-
Pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan.
Karena itu, Candi Plaosan sering disebut sebagai “Candi Plaosan Lor” (Utara) dan “Candi Plaosan Kidul” (Selatan), yang membentuk satu kompleks besar.
Perkembangan dan Kerusakan
Setelah runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno, Candi Plaosan sempat terbengkalai. Faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan antara lain:
-
Letusan Gunung Merapi
-
Gempa bumi
-
Faktor alam dan usia bangunan
-
Kurangnya perawatan pada masa lalu
Banyak bagian candi runtuh dan tertimbun tanah selama ratusan tahun.
Penemuan Kembali dan Pemugaran
Candi Plaosan ditemukan kembali pada abad ke-19 oleh pemerintah kolonial Belanda. Pemugaran dilakukan secara bertahap oleh:
-
Pemerintah Hindia Belanda
-
Pemerintah Indonesia setelah kemerdekaan
Proses pemugaran besar-besaran berlangsung pada abad ke-20 hingga sekarang, sehingga sebagian bangunan dapat dinikmati kembali.
Ciri Khas Candi Plaosan
Beberapa ciri khas Candi Plaosan antara lain:
-
Memiliki dua candi induk kembar di bagian utama
-
Dipenuhi stupa kecil dan relief Buddha
-
Terdapat arca Bodhisattwa dan Dhyani Buddha
-
Arsitekturnya halus dan detail
Makna Sejarah Candi Plaosan
Candi Plaosan memiliki nilai penting karena:
-
Menjadi simbol toleransi beragama
-
Menunjukkan kemajuan arsitektur Mataram Kuno
-
Menjadi bukti kejayaan budaya Jawa Kuno
Perbedaan keyakinan ini tidak menjadi penghalang bagi keduanya. Justru, dari cinta dan keharmonisan mereka lahirlah sebuah karya besar: Candi Plaosan.
💞 Simbol Cinta dan Toleransi
Candi Plaosan diyakini dibangun sebagai persembahan Rakai Pikatan kepada Pramodhawardhani. Meski Rakai Pikatan beragama Hindu, ia mendukung pembangunan candi bercorak Buddha sebagai bentuk penghormatan kepada istrinya.
Karena itu, Plaosan sering disebut sebagai “Candi Cinta”, lambang:
-
Kasih sayang suami-istri
-
Toleransi antarumat beragama
-
Persatuan dua wangsa besar
🏛️ Keunikan Arsitektur
Candi Plaosan terdiri dari dua bagian utama:
1. Plaosan Lor (Utara)
Merupakan kompleks utama dengan:
-
Dua candi induk besar
-
Candi perwara (pendamping)
-
Relief Buddha dan Bodhisattwa
-
Arca penjaga (Dwarapala)
2. Plaosan Kidul (Selatan)
Lebih kecil dan kini sebagian telah rusak.
Ciri khas Plaosan adalah adanya perpaduan unsur Hindu dan Buddha, misalnya:
-
Stupa Buddha berdampingan dengan relief bercorak Hindu
-
Arca dewa-dewi yang mencerminkan sinkretisme
📜 Jejak Sejarah
Prasasti-prasasti yang ditemukan di sekitar Plaosan menyebut nama Pramodhawardhani dan Rakai Pikatan, memperkuat kisah bahwa candi ini berkaitan erat dengan mereka.
Pada masa kejayaannya, Plaosan bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan Buddha.
🌄 Candi Plaosan Saat Ini
Kini, Candi Plaosan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang penting di Jawa Tengah. Banyak pengunjung datang untuk:
-
Belajar sejarah
-
Menikmati keindahan arsitektur
-
Berfoto dengan latar matahari terbit dan terbenam
Plaosan juga sering digunakan sebagai lokasi kegiatan budaya dan edukasi.
Apa makna toleransi yang dapat kita pelajari dari kisah Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani?
Mengapa perbedaan agama tidak menjadi penghalang dalam pembangunan Candi Plaosan?
Menurut pendapat kalian, apakah nilai toleransi pada masa lalu masih relevan saat ini? Mengapa?








0 Post a Comment:
Posting Komentar