Pages

Subscribe:

PERJUANGAN RAKYAT PAGATAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA

 


9 Jam Menempur Pagatan

Sejarah lazimnya milik para raja dan panglima. Namun, dalam serangan 7 februari 1946, Sejarah adalah milik orang biasa. Puluhan penduduk Pagatan yang gugur dalam serbuan lima kapal Belanda.

Ada dua monument penting di Pantai Pagatan. Yang pertama di alun-alun kota berupa patung tangan memegang tombak. Lokasinya tak jauh dari gerbang masuk objek wisata pantai. Yang kedua monument benteng perjuangan di tepi pantai, berupa tembok kokoh yang berdiri mengarah ke laut.

Kedua monumen ini memperingati peristiwa yang sama. Serangan Belanda ke Pagatan pada 7 Februari 1946. Kedua monument ini dibangun untuk mengenang jasa pahlawan yang gugur dalam peristiwa bersejarah tersebut. Semuanya dimakamkan di taman makam pahlawan Pagatan, berseberangan dengan monument benteng.

Dari awal mula berdirinya pada pertengahan abad ke-18 dan keruntuhannya pada awal abad ke-20.

Ada tiga pemicu serangan ini, pertama, hubungan baik antara pejuang Pagatan dengan kaum republiken di Ibukota darurat Yogyakarta. Kedua, Pantai Pagatan sangat strategis untuk menempatkan armada laut Belanda. Mengingat posisinya berhadapan dengan sisi Selatan pulau laut Kabupaten Kotabaru sekarang.

Pemicu terakhir yakni adanya mosi rakyat Pagatan pada 6 Desember 1945 yang berbunyi

Siap berdiri tegak dibelakang Republik Indonesia yang diproklamirkan oleh Soekarno dan Hatta”

Mosi itu lahir menyusul perundingan para pemimpin Pagatan Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru di Pagatan.

Pertemuan ini berlangsung pada 1 Desember 1945. Rakyat bertekad, jika NICA (Belanda) berani menginjakkan kakinya ke daerah ini, kami siap mempertahankan dengan segala kekuatan yang ada.

Dengan pertemuan 1 Desember tersebut, sudah cukup bagi Belanda untuk mengambil kesimpulan, bahwa di Pagatan sedang berkumpul pasukan pemberontak dalam jumlah besar. Serangan untuk menghancurkan Pagatan segera dirancang.

Kabar serangan akhirnya sampaike telinga pejuang. Para pejuang yang bersikap waspada, mendapati kedatangan Belanda lebih awal. Sedangkan pada kamis malam, para pejuang sudah melihat lampu-lampu kapal yang hendak bersandar di Pantai.

Pejuang lantas menyiapkan segala senjata yang diraih. Dari senapan dan granat hasil rampasan perang. Sampai parang, tombak,badik dan keris khas suku Bugis. Di pagi buta, penduduk sudah mempersiapkan partahanan garis pantai tersebut sampai titik darah penghabisan.

Pusat pertempuran berada satu kilometer dari monument benteng. Namun pada saat itu penjajah dengan licik mengelabuhi pejuang. Tentara bayaran Belanda yang berasal dari pribumi menyematkan lencana merah putih di dada mereka. Tiang ke lima buah kapal itu juga mengibarkan bendera dwi warna. Mengira yang datang adalah bala bantuan, kewaspadaan pejuang buyar. Kapal-kapal Belanda bisa berlabuh di Pantai Pagatan, sementara lambung kapal yang penuh sesak serdadu Belanda tersembunyi dengan aman.

Ketika pejunang menyambut dengan mesra, tiba-tiba Belanda menyerbu, menawan dan melucuti senjata para pejuang. Penghianatan ini dikenang masyarakat Pagatan dengan perih.mengingat yang mengenakan lencana merah putih tersebut masih lahir ditanah air yang sama.

Pelucutan ini mengawali pertempuran hebat di hari itu. Penduduk dari pelosok-pelosok desa serempak member perlawanan. Pertempuran sengit berlangsung selama Sembilan jam, Belanda akhirnya berhasil merengsek masuk menerobos garis pertahanan rakyat dan menduduki pusat kota pada petang hari.

Tak sedikit mayat yang bergelimpangan dari kedua belah pihak sehingga untuk mewariskan semangat kepahlawanan pada generasi muda, setiap 7 februari diperingati sebagai hari pahlawan lokal.

Setelah garis pertahanan Pagatan berhasil dijebol, daerah-daerah di sekitarnya pun berjatuhan. Tak menunggu lama pada 8 februari dini hari Belanda mengepung Kotabaru. Dari arah Pagatan dan Balikpapapn, Belanda serentak menyerbu. Akhirnya pada 9 Februari, Tanah Bumbu dan Kotabaru berhasil diduduki.


1 Post a Comment:

Anonim mengatakan...

Khayla Humaira XI-3
1.Peristiwa 9 Jam Menempur Pagatan terjadi pada 7 Februari 1946 dan rakyat biasa ikut berperang melawan Belanda.

2.Serangan Belanda terjadi karena rakyat Pagatan mendukung Republik Indonesia dan menolak penjajahan Belanda.

3.Belanda menipu pejuang dengan memakai bendera dan tanda merah putih sebelum akhirnya menyerang.

Posting Komentar